Wednesday, September 17, 2008

Sahabat

Dapet poem ini dari Lidia.



We need friends for many reasons,
all throughout the season.
We need friends to comfort us when we are sad,
and to have fun with us when we are glad.
We need friends to give us good advice,
We need someone we can count on,
and treat us nice.
We need friends to remember us
one we have passed
sharing memories that will always last.

Monday, September 15, 2008

Wisdom - from Prof. Don Markwell, UWA


Ingin berbagi email dari Reza Faresyi, seorang teman yang ada di University of Western Australia sana... Emailnya tentang pidato dari Prof. Don Markwell pada acara wisuda di UWA tanggal 8 Sept lalu. Saya kutip beberapa....Mudah-2an bisa jadi bahan buat nambah wawasan...




-----------------------------------
Many years ago I heard of a father who asked each of his children this question: what will you do with your life that will make the greatest difference for good in the world? It seems to me a wonderful question for each of us to consider – how can we best use our special talents, whatever they may be, and the expertise that we gain, to make the world a better place?

There are several important aspects of this.

The first is aiming to make a difference – not being a passenger but a driver in life’s journey.

Those who make a difference in the world are usually people who question, when the world is imperfect in so many ways, what can I do – myself or with others – to change things for the better?

In 1912, the University Senate adopted the simple English words to which the Vice-Chancellor has referred - ‘Seek wisdom’ - as the motto of this University; and the inscriptions on the statues and stone benches near the reflecting pool have as their theme that it is by beauty that we come at wisdom. But in our universities, as throughout society at large, it seems to me that there are far more clever people than there are wise.
You are undoubtedly a person of greater knowledge and skills than you were when you started your studies. But are you wiser?

How can we make sure that we are not only better informed, but wiser also?

Wisdom involves a sense of what is right, and what is wrong. It involves a fundamental integrity of character, magnanimity, and generosity of spirit. It recognises and rejects the futility, the self-destructive force, of hatred.

Wisdom involves a well-judged balance of energetic action and quiet reflection. Wisdom involves an appreciation of what action circumstances require, and what circumstances will allow.

The person of wisdom remembers always to ask what is our fundamental purpose, and how best we can achieve it. The philosopher Nietzsche said that ‘the most commonplace form of stupidity is to forget what we are trying to do’.

Wisdom involves understanding people – their motivations and their behaviour – as individuals and in groups or organisations.

The wise person understands that neither they nor anyone else has a monopoly on wisdom, and appreciates diversity, seeking always to learn from and to engage with the wisdom of others. Diversity includes an engagement with the wisdom of women and men of cultures, nations, and religions different from one’s own. The wise person may well seek wisdom in religion – but surely not in fundamentalism. They may seek it in philosophy, but not in rigid ideology.

Where, then, is wisdom to be found?

We may find it in the example of others, those we know and others about whom we read and hear. Some of the wisdom of others can rub off on us if we seek them out as mentors, and this is something I encourage new graduates to do.
Wisdom comes from wide reading in fields far beyond one’s own professional discipline.

Wisdom comes from reflection.

Wisdom comes from experience. Step outside your comfort zone, to seek new experiences from which you will learn, both within Australia and overseas.

Not all the experience from which we learn is comfortable. As Robert Reich suggested, when he referred to those ‘walls of character’ into which we crash, the getting of wisdom is often a bruising experience.

The wise person knows when to speak, and when to be silent. Oliver Wendell Holmes said: ‘It is the province of knowledge to speak and it is the privilege of wisdom to listen.’


If in years to come, the Chancellor of the University of Western Australia were to invite you to come back to Winthrop Hall to speak at a Graduation Ceremony about how you have made a difference for good in the world – not the brief that I was given, I hasten to add - I wonder what you would say. Please don’t say that you haven’t made a difference. Please make absolutely certain that you have!

Wednesday, August 20, 2008

Ngelawang Galungan



Kemarin, Rabu 20 Agustus (Budha Kliwon Dungulan - menurut Kalender bali), umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan kemenangan kebaikan (dharma) atas ketidakbaikan (adharma). Rentetan upacaranya dimulai jauh-jauh hari sebelum Galungan, mulai dari Tumpek Wariga yang merupakan hari memohon kesuburan tanaman bagi kehidupan manusia. Tapi, paling sibuk dan ramai sejak 3 hari sebelum Galungan. Kemudian memasang penjor sehari sebelum Galungan, memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma.
Setelah sembahyangan pada Hari Raya Galungan, saya ikut mengupah barong yang ngelawang. Ngelawang merupakan pentas seni keliling desa. Pentas ngelawang pada dasarnya sama dengan ngamen, tapi terjadi dengan akrab dan santai serta melibatkan 10-15 orang yang biasanya merupakan sebuah 'sekea' atau grup. Ngelawang berlangsung berkeliling dan pentas dapat berlangsung di jalan atau di depan pekarangan rumah.
Ngelawang di Hari Galungan kental suasana ritual dan magis, walau tentu saja ada unsur hiburannya. Kehadiran barong yang ngelawang bermakna untuk menghadirkan ketentraman, mengusir kejahatan (termasuk orang-orang yang bermaksud jahat) dan menghindari penyakit. Anak-anak paling suka menggoda barong yang ngelawang. Mereka sengaja menggoda, agar barong mengejar mereka. Dan itu merupakan keceriaan luar biasa bagi anak-anak saat merayakan Galungan.

Wednesday, August 13, 2008

Kembali ke Bogor

Saya meninggalkan Bogor tahun 1992, setelah sekitar 5 tahun sekolah di IPB. Tahun 2000, saya sempat ke Ciawi mengikuti pelatihan PEKERTI, tapi waktu itu tidak sempat ke Bogor kota. Baru seminggu yang lalu saya menelusuri kembali Jalan Raya Pajajaran yang dulu biasa saya lalui. Sangat banyak perubahan di Bogor (walau Kebun Raya tetap menjadi ciri khas), terutama banyaknya factory outlet dan angkot yang bertebaran. Tidak heran jika Perwakilan dari Kementrian Riset dan Teknologi yang membuka The 4th Indonesia Biotechnology Consortium Conference mengatakan selamat datang di Bogor yang hijau, bukan saja karena kebun raya, tapi juga karena angkotnya (angkotnya kebetulan berwarna hijau).

Berjalan-jalan di IPB Baranangsiang, tidak ada lagi tempat kuliah dulu, ruang P1 sampai P12 sudah berubah menjadi mall Botani Square, dimana terdapat IICC (IPB International Convention Centre) dan sekarang sedang dibangun hotel untuk fasilitas kenyamanan peserta conference nantinya. Gedung alumni yang dulu terlihat paling megah, sekarang terhalang mall dan terminal Damri. Kantor pos dan Warung DPR (Di bawah Pohon Rindang) masih ada, walau terkesan terabaikan. IPB memang sudah berpusat di Darmaga, tapi kenangan masih tertinggal di Baranangsiang.

Di depan IICC

4th IBC Conference menunjukkan perkembangan bioteknologi di Indonesia, mulai dari eksplorasi biofuel (Jatropha, Brassica, Algae), perkembangan tanaman transgenik, bakteri probiotik, serta dunia '-omics' (genomics, proteomics dan metabolomics), deteksi penyakit/perkembangan marker dengan proteomics. Kesan saya, materi penelitian bioteknologi di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan penelitian bioteknologi di Luar Negeri. Tentulah aplikasinya yang kita harapkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Saya sendiri masih mempresentasikah thesis S3 saya, tapi keingintahuan tentang status penelitian bioteknologi di Indonesia serta kesempatan berkenalan dengan peneliti lain .... dan sedikit bernostalgia :) mendorong saya untuk mengikuti konferensi ini. Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke BB Biogen (dulu bernama Balitan) di Cimanggu. Melihat fasilitas yang ada di sana dan berharap bisa bekerjasama ke depannya.


Lab Kultur Jaringan di BB Biogen

Penyimpanan benih di BB Biogen

Di depan Kebun koleksi BB Biogen

Saturday, July 5, 2008

Kemajuan Penelitian di Asembagus


Kemarin, kami (Mbak Asta, saya serta seorang mahasiswa Biologi) mengunjungi kembali Kebun Percobaan Asembagus tempat penelitian kami dilakukan. Kali ini Pak Bambang dari Balitas juga datang. Jadi diskusi bisa dilakukan secara menyeluruh. Tapi di sela-sela diskusi, kami juga bernostalgia, karena kami semua alumni The University of Western Australia.

Mb Asta, Pak Bambang, saya
Kali ini jadwal penelitian kami adalah pemberian perlakuan cekaman kekeringan. Sempat bingung menentukan pengukuran kadar air tanah. Awalnya kami berpikir untuk menimbang pot...tapi menimbang 576 pot setiap hari tentu sangat time consuming dan melelahkan. Belum lagi resiko tersenggolnya stek yang dapat merusak tanaman. Akhirnya kami memutuskan menggunakan Gypsum block.
Gypsum block merupakan alat yang sederhana, yang terdiri dari dua elektroda tertanam dalam silinder yang terbuat dari gipsum. Pengukuran dilakukan pada gypsum block dengan mengukur tahanan elektrik antara elektroda dalam block. Block menghantarkan air dan dengan cepat dan mudah menjadi seimbang dengan air yang diserap tanah. Saat tanah menjadi basah, pori-pori dalam gipsum terisi air dan melarutkan gipsum, cukup untuk membuat larutan kalsium sulfat jenuh sebagai elektrolit yang mengakibatkan arus listrik (Skinner et al., 1997; Australian viticulture). Tahanan di antara dua elektroda ditentukan dengan AC voltage. Tahanan elektrik di antara dua elektroda yang tertanam dalam medium berpori adalah proporsional dengan kandungan airnya yang berhubungan dengan potensial air tanah disekitarnya.
Jadi kami seharian memasang gypsum block di tengah terik matahari yang super panas di Asembagus

Memasang Gypsum block


Sunday, June 29, 2008

God speaking

Dari Deni seorang sahabat yang selalu mengingatkan saya bahwa God is good.....

God Speaking
*************
The man whispered, "God, speak to me"
And a meadowlark sang.
But the man did not hear.

So the man yelled "God, speak to me"
And the thunder & lightning rolled across the sky.
But the man did not listen.

The man looked around and said, "God, let me see you."
And a star shined brightly.
But the man did not see.
And, the man shouted, "God, show me a miracle"
And a life was born.
But the man did not notice.

So, the man cried out in despair, "Touch me, God, and let me know you are here"
Whereupon, God reached down and touched the man.
But the man brushed the butterfly away and walked on.

I found this to be a great reminder that God is always around us in the little and simple things that we take for granted. .even in our electronic age . . . so I would like to add one more:

The man cried "God, I need your help" . . .
and ane-mail arrived reaching out with good news and encouragement.
But the man deleted it and continued crying.....

The good news is that you are loved.

Tuesday, June 24, 2008

Hubbu

Baru saja menyelesaikan bab terakhir novel Hubbu karya Mashuri yang menjadi pemenang I Sayembara novel DKJ 2006. Saya tertarik membelinya karena novel juara. Walau tidak berharap banyak akan memahaminya (karena biasanya novel atau film yang menang sayembara agak susah dipahami - atau itu karena kemampuan nalar dan hayal saya yang kurang).

Hubbu (bahasa Arab) artinya cinta. Bagi saya tidak jelas cinta apa yang diceritakan Masyuri. Mungkin judul ini diambil karena di bagian akhir - Jarot - tokoh utama cerita ini dalam suratnya kepada Teguh mengatakan bahwa diantara keterbatasannya, ketakutannya dia bertahan pada eros. 'Eros yang berjuntai pada semangat kasih terdalam, sebuah cinta sublim yang mengakar ke hati dan berkelindan di tindakan' (hal 177).

Novel ini menceritakan kegelisahan Abdullah Sattar atau Jarot. Seorang santri berbakat dari keluarga Islam yang bisa lancar menghapal dalam sekali baca, dan diharapkan akan memimpin pesantren (menggantikan Mbah Adnan) tapi malah tertarik pada hal-hal lain seperti ilmu-ilmu Jawa dan hal-hal klenik. Dia juga terbagi menjadi pribadi yang ingin hidup dengan menjalankan ajaran islam tapi juga sekaligus pacaran.

Kepergiannya ke Surabaya tetap melanjutkan kegelisahan dan keterbelahan pribadi Jarot. Menolak berhubungan badan dengan Puteri, tapi akhirnya tidur dengan Agnes. Doza perzinahan membuatnya menghukum diri, tidak pernah kembali ke Alas Abang - Desa dimana dia diharapkan memimpin pesantren, tapi lari ke Ambon.

Setelah Jarot meninggal, anaknya - Aida kembali ke Alas Abang dan menemukan banyak rahasia yang dimiliki ayahnya. Di sana Aida menemukan silsilah yang ternyata memuat namanya. Sebuah garis kepemimpinan - dari Sunan Gunung- Mbah Adnan - Abdullah Sattar (tapi mengingkarinya) - nama Aida. Ada takdir yang dihindari oleh Jarot tapi akhirnya beralih ke pundak anaknya. Betulkah takdir begitu? (saya benar-benar bertanya nih :) ). Ketika jarot menghindari takdir, takdir itu menjadi milik anaknya. Sebuah takdir yang melingkar. 'Lingkaran takdir yang sudah menyatu dengan darah' (hal 234).

Alur cerita pada novel ini acak dan lompat-lompat. Kadang tokoh aku diceritakan oleh Jarot, kadang Puteri, kadang Aida - dan kadang baru dapat diketahui setelah akhir bagian. Mungkin disengaja, agar jadi variatif. Tapi tetap ada beberapa hal menarik dalam novel ini, selain tokoh calon pemimpin pesantren wanita, seseorang (Jarot) yang tidak bisa memilih menjadi pemimpin santri (Abdullah Sattar) atau menjadi Jarot seutuhnya.

Hmmm...pilihan itu penting. Tapi mungkin lebih penting lagi, setelah menentukan pilihan, tidak menyesalinya.... jadi curhat :) .....Masa lalu juga penting. Tapi orang bilang, jangan kembali ke masa lalu...look forward...Kenapa Aida jauh-jauh dari Ambon mencari masa lalu ayahnya ke Desa Alas Abang? Saya jadi ingin ikut kembali ke masa lalu...teringat salah satu film Superman, saat dia dengan kekuatannya melawan rotasi bumi, memutar kembali bumi ke waktu tertentu untuk membuat sesuatu tidak terjadi...ah..seandainya saya Superman...ini sih dunia hayal... sudah keluar jalur dari novel Hubbu.