Friday, December 12, 2008

Rahasia



Rahasia

Kuberi tahu satu rahasia Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya


Maryamah Karpov: 433

Monday, October 13, 2008

Merdeka

Belakangan ini sering teringat dengan posting Ona tentang 'merdeka'. Walaupun dia posting di Bulan Agustus yang identik dengan peringatan kemerdekaan RI, tapi posting Ona adalah mengenai kemerdekaan secara individu. Saya yakin banyak orang yang mengalami hal yang sama, termasuk saya. Tapi cara merespon tentulah beda-beda.

Saya mencoba untuk selalu berpikir positif. Jika pertanyaan ke area pribadi muncul (dan pastinya pertanyaan seperti itu bertebaran di mana-mana, di setiap pertemuan, perkenalan, kegiatan, dll), mungkin itu artinya mereka memperhatikan saya dan tentu saya harus berterimakasih atas perhatian mereka. Walaupun pertanyaan mereka tak jarang diikuti tuduhan...'kamu terlalu memilih sih..', atau 'kamu kurang gaul...', 'kamu belajar terus...'. Kadang muncul keinginan untuk berkomentar....'who are you to judge???' Tapi daripada stress mikirin komentar orang, ya sudah paling-paling saya hanya tersenyum masam.

Seperti pendapat Ona, mungkin mereka serius ingin menunjukkan simpati tanpa menyadari bahwa komentarnya terasa irritating. Atau mereka merasa dekat sehingga merasa ringan saja berkomentar. Atau dugaan buruknya, memang ada 'apa-apanya'.
Saya sering membandingkan dengan diri saya sendiri. Saya hampir tidak pernah masuk ke wilayah urusan pribadi orang lain, kecuali mereka curhat duluan dan meminta saya berkomentar. Jadi saya juga ingin vice versa. Tapi kata seorang teman, hukum resiprokal seperti itu tidak berlaku dalam kehidupan. Jika berbuat baik, sabar dan membantu seseorang maka tidak bisa berharap orang tersebut akan berbuat yang sama kepada kita. Jadi ya itu...:) . Karena saya tentu tidak bisa melarang mereka berkomentar, apalagi di jaman sekarang ini, dengan kebebasan bersuara dan berekspresi, jadi komentar apapun boleh-boleh saja.

Berarti merdeka itu terserah kita yang ngatur. .

Di SMAN I Sukawati


Kegiatan tahun ini hanya berlokasi di Pulau Bali saja. Tahun ini, kami memberikan workshop teknik penulisan ilmiah bidang biologi di Kabupaten Gianyar. Ide ini muncul dari pengalaman menjadi juri di kegiatan LKTI yang diadakan oleh Himabio. Anak-anak SMA punya kreativitas yang tinggi dalam melakukan penelitian biologi, tetapi masih ada kekurangan dalam penulisan laporan ilmiah.



Kegiatan ini diikuti oleh siswa dari SMA Negeri I Sukawati, SMA Negeri I Tampaksiring, SMA Negeri I Payangan, SMA Negeri I Blahbatuh dan SMA Negeri I Ubud. Workshop terdiri dari ceramah dan latihan yang meliputi metode ilmiah, penyusunan hipotesis, metode penelitian biologi, pengutipan pendapat orang lain, penulisan daftar pustaka maupun teknik presentasi.

Wednesday, September 17, 2008

Sahabat

Dapet poem ini dari Lidia.



We need friends for many reasons,
all throughout the season.
We need friends to comfort us when we are sad,
and to have fun with us when we are glad.
We need friends to give us good advice,
We need someone we can count on,
and treat us nice.
We need friends to remember us
one we have passed
sharing memories that will always last.

Monday, September 15, 2008

Wisdom - from Prof. Don Markwell, UWA


Ingin berbagi email dari Reza Faresyi, seorang teman yang ada di University of Western Australia sana... Emailnya tentang pidato dari Prof. Don Markwell pada acara wisuda di UWA tanggal 8 Sept lalu. Saya kutip beberapa....Mudah-2an bisa jadi bahan buat nambah wawasan...




-----------------------------------
Many years ago I heard of a father who asked each of his children this question: what will you do with your life that will make the greatest difference for good in the world? It seems to me a wonderful question for each of us to consider – how can we best use our special talents, whatever they may be, and the expertise that we gain, to make the world a better place?

There are several important aspects of this.

The first is aiming to make a difference – not being a passenger but a driver in life’s journey.

Those who make a difference in the world are usually people who question, when the world is imperfect in so many ways, what can I do – myself or with others – to change things for the better?

In 1912, the University Senate adopted the simple English words to which the Vice-Chancellor has referred - ‘Seek wisdom’ - as the motto of this University; and the inscriptions on the statues and stone benches near the reflecting pool have as their theme that it is by beauty that we come at wisdom. But in our universities, as throughout society at large, it seems to me that there are far more clever people than there are wise.
You are undoubtedly a person of greater knowledge and skills than you were when you started your studies. But are you wiser?

How can we make sure that we are not only better informed, but wiser also?

Wisdom involves a sense of what is right, and what is wrong. It involves a fundamental integrity of character, magnanimity, and generosity of spirit. It recognises and rejects the futility, the self-destructive force, of hatred.

Wisdom involves a well-judged balance of energetic action and quiet reflection. Wisdom involves an appreciation of what action circumstances require, and what circumstances will allow.

The person of wisdom remembers always to ask what is our fundamental purpose, and how best we can achieve it. The philosopher Nietzsche said that ‘the most commonplace form of stupidity is to forget what we are trying to do’.

Wisdom involves understanding people – their motivations and their behaviour – as individuals and in groups or organisations.

The wise person understands that neither they nor anyone else has a monopoly on wisdom, and appreciates diversity, seeking always to learn from and to engage with the wisdom of others. Diversity includes an engagement with the wisdom of women and men of cultures, nations, and religions different from one’s own. The wise person may well seek wisdom in religion – but surely not in fundamentalism. They may seek it in philosophy, but not in rigid ideology.

Where, then, is wisdom to be found?

We may find it in the example of others, those we know and others about whom we read and hear. Some of the wisdom of others can rub off on us if we seek them out as mentors, and this is something I encourage new graduates to do.
Wisdom comes from wide reading in fields far beyond one’s own professional discipline.

Wisdom comes from reflection.

Wisdom comes from experience. Step outside your comfort zone, to seek new experiences from which you will learn, both within Australia and overseas.

Not all the experience from which we learn is comfortable. As Robert Reich suggested, when he referred to those ‘walls of character’ into which we crash, the getting of wisdom is often a bruising experience.

The wise person knows when to speak, and when to be silent. Oliver Wendell Holmes said: ‘It is the province of knowledge to speak and it is the privilege of wisdom to listen.’


If in years to come, the Chancellor of the University of Western Australia were to invite you to come back to Winthrop Hall to speak at a Graduation Ceremony about how you have made a difference for good in the world – not the brief that I was given, I hasten to add - I wonder what you would say. Please don’t say that you haven’t made a difference. Please make absolutely certain that you have!

Wednesday, August 20, 2008

Ngelawang Galungan



Kemarin, Rabu 20 Agustus (Budha Kliwon Dungulan - menurut Kalender bali), umat Hindu merayakan Hari Raya Galungan yang merupakan kemenangan kebaikan (dharma) atas ketidakbaikan (adharma). Rentetan upacaranya dimulai jauh-jauh hari sebelum Galungan, mulai dari Tumpek Wariga yang merupakan hari memohon kesuburan tanaman bagi kehidupan manusia. Tapi, paling sibuk dan ramai sejak 3 hari sebelum Galungan. Kemudian memasang penjor sehari sebelum Galungan, memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma.
Setelah sembahyangan pada Hari Raya Galungan, saya ikut mengupah barong yang ngelawang. Ngelawang merupakan pentas seni keliling desa. Pentas ngelawang pada dasarnya sama dengan ngamen, tapi terjadi dengan akrab dan santai serta melibatkan 10-15 orang yang biasanya merupakan sebuah 'sekea' atau grup. Ngelawang berlangsung berkeliling dan pentas dapat berlangsung di jalan atau di depan pekarangan rumah.
Ngelawang di Hari Galungan kental suasana ritual dan magis, walau tentu saja ada unsur hiburannya. Kehadiran barong yang ngelawang bermakna untuk menghadirkan ketentraman, mengusir kejahatan (termasuk orang-orang yang bermaksud jahat) dan menghindari penyakit. Anak-anak paling suka menggoda barong yang ngelawang. Mereka sengaja menggoda, agar barong mengejar mereka. Dan itu merupakan keceriaan luar biasa bagi anak-anak saat merayakan Galungan.

Wednesday, August 13, 2008

Kembali ke Bogor

Saya meninggalkan Bogor tahun 1992, setelah sekitar 5 tahun sekolah di IPB. Tahun 2000, saya sempat ke Ciawi mengikuti pelatihan PEKERTI, tapi waktu itu tidak sempat ke Bogor kota. Baru seminggu yang lalu saya menelusuri kembali Jalan Raya Pajajaran yang dulu biasa saya lalui. Sangat banyak perubahan di Bogor (walau Kebun Raya tetap menjadi ciri khas), terutama banyaknya factory outlet dan angkot yang bertebaran. Tidak heran jika Perwakilan dari Kementrian Riset dan Teknologi yang membuka The 4th Indonesia Biotechnology Consortium Conference mengatakan selamat datang di Bogor yang hijau, bukan saja karena kebun raya, tapi juga karena angkotnya (angkotnya kebetulan berwarna hijau).

Berjalan-jalan di IPB Baranangsiang, tidak ada lagi tempat kuliah dulu, ruang P1 sampai P12 sudah berubah menjadi mall Botani Square, dimana terdapat IICC (IPB International Convention Centre) dan sekarang sedang dibangun hotel untuk fasilitas kenyamanan peserta conference nantinya. Gedung alumni yang dulu terlihat paling megah, sekarang terhalang mall dan terminal Damri. Kantor pos dan Warung DPR (Di bawah Pohon Rindang) masih ada, walau terkesan terabaikan. IPB memang sudah berpusat di Darmaga, tapi kenangan masih tertinggal di Baranangsiang.

Di depan IICC

4th IBC Conference menunjukkan perkembangan bioteknologi di Indonesia, mulai dari eksplorasi biofuel (Jatropha, Brassica, Algae), perkembangan tanaman transgenik, bakteri probiotik, serta dunia '-omics' (genomics, proteomics dan metabolomics), deteksi penyakit/perkembangan marker dengan proteomics. Kesan saya, materi penelitian bioteknologi di Indonesia tidak tertinggal jauh dibandingkan penelitian bioteknologi di Luar Negeri. Tentulah aplikasinya yang kita harapkan untuk kesejahteraan masyarakat.
Saya sendiri masih mempresentasikah thesis S3 saya, tapi keingintahuan tentang status penelitian bioteknologi di Indonesia serta kesempatan berkenalan dengan peneliti lain .... dan sedikit bernostalgia :) mendorong saya untuk mengikuti konferensi ini. Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke BB Biogen (dulu bernama Balitan) di Cimanggu. Melihat fasilitas yang ada di sana dan berharap bisa bekerjasama ke depannya.


Lab Kultur Jaringan di BB Biogen

Penyimpanan benih di BB Biogen

Di depan Kebun koleksi BB Biogen